Selasa pertama di Januari
Mematuk lantai, berdansa elegi
Tidak matamu yang bergurat
Tidak juga rekah senyumnya yang semburat
Sendiri menari racau mengikuti putik-putik firasat
Ada rona melebam takluk
Pada rangkai kata yang membuat bunga-bunga tidurku gemelatuk
Pada pertemuan yang membuat gurau terbebas dari segala kikuk
Ada asa menyihir enggan
Pada selekat-lekatnya tatap yang menggetarkan
Juga pada lelucon-lelucon kehidupan
Namun kepulangan tetaplah sapa yang mendiami sela jarimu,
Tetaplah hangat di balik blus abu-abu kesukaanmu,
Juga kasih yang kau sentuhkan dalam doa malam yang kau ramu
Memeluk persimpangan
Menapaki teka-teki yang takdir tawarkan
Tak berarti rasa menyeluruh berpulang
Lantas membenamkan rindu pada muasal sarang
Laksana seberkas benderang
Datang
Lalu pergi sembarang
Tuesday, June 16, 2015
Tuesday, April 28, 2015
Prolog
Hujan jatuh perlahan
Merembesi tiap harap yang tertahan
Dan pada kata yang tak tersampaikan,
dititipkan sebuah pesan ; kerinduan
Malam kedatangan nyalang
Ditengarai hujan yang tak kunjung hilang
Ada makna di balik wajah itu ; pulang
Angin menyusup rintik
Ialah kau dan hujan yang sama-sama tahu bagaimana caranya menyimpan dan menyibak kenangan dalam pandora yang cantik
Tak peduli meski langit sedang sangat sarkastik
Bahwa segala tentang kita, begitu dingin dan mistik
Jika rindu diartikan kepulangan
Kemarilah bicara tentang penantian
Seperti murai yang mengabdi pada pagi dan rerimbunan
Seperti fajar keemasan, yang terjaga saat kota lahir sampai tiba sesak pencarian
Seperti jarak yang tak bertepi ; pengharapan
(Kolaborasi Puisi Ketengan Bersama Kenang Sukmo Ajie)
Merembesi tiap harap yang tertahan
Dan pada kata yang tak tersampaikan,
dititipkan sebuah pesan ; kerinduan
Malam kedatangan nyalang
Ditengarai hujan yang tak kunjung hilang
Ada makna di balik wajah itu ; pulang
Angin menyusup rintik
Ialah kau dan hujan yang sama-sama tahu bagaimana caranya menyimpan dan menyibak kenangan dalam pandora yang cantik
Tak peduli meski langit sedang sangat sarkastik
Bahwa segala tentang kita, begitu dingin dan mistik
Jika rindu diartikan kepulangan
Kemarilah bicara tentang penantian
Seperti murai yang mengabdi pada pagi dan rerimbunan
Seperti fajar keemasan, yang terjaga saat kota lahir sampai tiba sesak pencarian
Seperti jarak yang tak bertepi ; pengharapan
(Kolaborasi Puisi Ketengan Bersama Kenang Sukmo Ajie)
Saturday, April 18, 2015
Lelatu Hari Minggu
Pagi itu ada yang meletup
Sebuah kerinduan yang mengerjap dalam degup
Dikisahkan desau alam yang setia pada pagi dan udara merah jambu
Namamu disitu
Tertera tak berragu
Bergelayut pada wajah yang menantang masa lalu
Sore itu ada yang meletup
Di atas kemacetan Jakarta
Di bawah langit biru pucat menuju jingga
Seorang kawan mengisahkan carik-carik roman di antara reguk susu dingin hingga manisnya tak bersisa
Mungkin hanya pelipur lara
Mungkin juga mengandung doa
Ah, rupanya semesta mendengar dengan saksama
Malam itu ada yang meletup
Sebait sapa tanpa rasa gugup
Melesat. Mendesing. Berkilatan cahaya
Seolah rona memang diundang hadir ke udara
Untuk menjawab beragam terka
Sebuah kerinduan yang mengerjap dalam degup
Dikisahkan desau alam yang setia pada pagi dan udara merah jambu
Namamu disitu
Tertera tak berragu
Bergelayut pada wajah yang menantang masa lalu
Sore itu ada yang meletup
Di atas kemacetan Jakarta
Di bawah langit biru pucat menuju jingga
Seorang kawan mengisahkan carik-carik roman di antara reguk susu dingin hingga manisnya tak bersisa
Mungkin hanya pelipur lara
Mungkin juga mengandung doa
Ah, rupanya semesta mendengar dengan saksama
Malam itu ada yang meletup
Sebait sapa tanpa rasa gugup
Melesat. Mendesing. Berkilatan cahaya
Seolah rona memang diundang hadir ke udara
Untuk menjawab beragam terka
Saturday, March 28, 2015
Catatan Kerinduan #4
Tentang perkara dan perasaan yang mengantarkan kita pada sebuah pengakuan
Di bawah singut malam yang tak berkesudahan,
rindu dan pilu bertemu
Tak habis mengoceh tentang peliknya romansa;
mana yang berdansa, mana yang nelangsa
Tersesat dalam gamang di tengah perjalanan pulang
Menuju rumah berkelip kunang
Serta hangat yang takkan lekang
Yang dengan mesra menaungi segala puisi
Caci maupun puji
Mengamini sebuah keraguan di tengah persimpangan;
Halaman hatimu
Atau
Jiwanya
Waktu menebar asa
Segala melompat tergesa
Aku mati rasa
Di bawah singut malam yang tak berkesudahan,
rindu dan pilu bertemu
Tak habis mengoceh tentang peliknya romansa;
mana yang berdansa, mana yang nelangsa
Tersesat dalam gamang di tengah perjalanan pulang
Menuju rumah berkelip kunang
Serta hangat yang takkan lekang
Yang dengan mesra menaungi segala puisi
Caci maupun puji
Mengamini sebuah keraguan di tengah persimpangan;
Halaman hatimu
Atau
Jiwanya
Waktu menebar asa
Segala melompat tergesa
Aku mati rasa
Sunday, February 22, 2015
Catatan Kerinduan #3
Dalam sebuah kerinduan yang tenang
Tanpa sungut menuntut nasib
untuk kisah yang telah lama dijunjung
Bersama cerca dan sanjung yang bebas tak dipasung
Kita, akhirnya menemui penghujung
Setelah ribuan musim tak terelakkan;
Diranggas kepiluan, didekap lembab cuaca kepayahan, dan rangkai-rangkai kata berpolutan
Hingga tercerabut dari jiwa yang semula bertaut
Menjadikan perpisahan sebagai sebuah keharusan
***
Kudengar reranting dedaunan yang koyak
Melucuti kembang-kembang romansa yang berserak
Menyeok lagu masa depan yang berubah jadi sumbang
Ditalun angin kering nan gersang
Mengiringi perjalanan beda arah yang pincang
Mencari naungan baru untuk sebuah makna yang hilang:
Pulang
Tanpa sungut menuntut nasib
untuk kisah yang telah lama dijunjung
Bersama cerca dan sanjung yang bebas tak dipasung
Kita, akhirnya menemui penghujung
Setelah ribuan musim tak terelakkan;
Diranggas kepiluan, didekap lembab cuaca kepayahan, dan rangkai-rangkai kata berpolutan
Hingga tercerabut dari jiwa yang semula bertaut
Menjadikan perpisahan sebagai sebuah keharusan
***
Kudengar reranting dedaunan yang koyak
Melucuti kembang-kembang romansa yang berserak
Menyeok lagu masa depan yang berubah jadi sumbang
Ditalun angin kering nan gersang
Mengiringi perjalanan beda arah yang pincang
Mencari naungan baru untuk sebuah makna yang hilang:
Pulang
Friday, January 30, 2015
Kepada. Tentang.
Ini adalah
kali kedua bagi Saya membuat sebuah tulisan yang terinspirasi dari teman-teman
semasa SMA. Setidaknya yang Saya posting.
Sebelumya di 2013, bertepatan dengan empat tahun pasca kami (para siswi
perempuan) menamai diri dengan “Envoletta”.
Saya berani bertaruh bahwa setidaknya ada puluhan tulisan ketengan yang
Saya tulis untuk mereka. Atau terinspirasi dari mereka. Karena kenangan di masa
itu memang terlalu banyak. Bahkan Saya sempat berniat mengikutsertakan beberapa tulisan
(dalam bentuk surat) ke sebuah forum penulis #KepadaTentang. Saya takut suatu hari menjadi pikun dan kenangan itu perlahan merabun. Maka ingatan indah tersebut harus segera diselamatkan. Surat itu kelak
akan Saya beri judul:
Kepada Kalian yang Memiliki Tawa Sederhana, Tentang Masa
Muda yang Begitu Mesra.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Ini adalah sebuah pengakuan mengenai
kerinduan dan ketidakberdayaan Saya mengucapkan terima kasih pada kalian. Satu
persatu. Dulu kita muda, kini beranjak dewasa. Saya menemui diri Saya dalam
wujud yang berbeda, menemukan rekanan-rekanan baru, menghidupi pola baru yang
terkadang bisa jadi menjemu, dan juga kekasih-kekasih dengan beragam rayu. Tapi
Saya selalu merasa pulang saat memangku kenangan tentang kalian. Yang dengan
mudahnya terngiang hanya sesaat setelah Saya melucuti foto-foto masa SMA. Dan
tulisan-tulisan selalu mengalir begitu saja. Seolah kata-kata syahdu memang
meluap dan tumpah tepat kepada jiwa-jiwa yang sudah lama didamba.
SMAI Nurul Fikri Boarding School. Saya pun tak ingat, kapan pastinya Saya begitu
mencintai tempat ini. Mencintai kalian. Mencintai tiap kenangan. Mencintai
seseorang yang menjadi salah satu inspirasi terhebat untuk beberapa tulisan.
. . .
Tahun pertama. Bersama seorang
perempuan cantik yang Saya anggap sebagai teman pertama di tempat ini, kami tak
pernah berhenti menjejali diri dengan berbagai umpatan dan keluhan. Malam-malam
menjadi begitu mengerikan; Membayangkan perempuan-perempuan seusia kami, di
luar sana, dengan bebas bersolek, menikmati pergaulan muda-mudi masa kini, atau
setidaknya terbebas dari hukuman jalan jongkok asrama - masjid karena
tidak ikut sholat berjama’ah. Sedang kami terkurung dalam “Jilbab Sejengkal
dari Sikut” dan “Area Cengkrama yang Hanya Sebatas Sekolah – Asrama”. Lalu kami
berbagi keluh dan dunia yang sepertinya sama. Setiap hari menyulam umpat hingga
membentuk sebuah pola.
Tidak ada yang istimewa. Penghiburan
rasanya hanya sebatas angin sepoi basah yang membelai wajah saat sesekali Saya
mencicipi sebuah bangku tua berkarat yang berkali dipulas cat biru agar tampak
baru. Sambil berkeliling pandang mencari secerca keseruan yang mungkin dapat Saya
lakukan. Tapi tak ada. Hanya desau dedaunan yang kerap menambah mahsyuk kerisauan.
Sedang bayang tentang masa SMA adalah masa terindah, telah Saya kubur
dalam-dalam. Bahkan sejak pertama kali Saya menjejaki tempat ini.
Sampai suatu pagi yang kaku datang. Saya
menyuarakan sebuah protes. Dengan segenap kebosanan yang menggumpal. Sebal. Saya
mendapati balasan. Sebuah perumpamaan luar biasa yang langsung tertuju hingga
ke bulu mata. Tentang kapur dan intan yang terbuat dari senyawa yang sama,
Carbon. Keduanya menjadi beda karena perbedaan waktu yang dilalui saat mendapatkan
tekanan. Kapur hanya tahunan, sedang bisa mencapai sekian windu bagi intan.
Sejak pagi itu, Saya tak lagi sama.
Selayak
istilah reinkarnasi, mungkin kurang lebih itu yang Saya alami. Saya mulai
menjalin percakapan, menemukan beberapa teman perempuan yang begitu
menyenangkan dalam bersenda. Beberapa di antaranya bahkan sungguh luar biasa.
Dan secara bersamaan, dari kejauhan, ada sepasang mata yang diam-diam berbinar. Juga kerap menghimpun debar.
Dan secara bersamaan, dari kejauhan, ada sepasang mata yang diam-diam berbinar. Juga kerap menghimpun debar.
. . .
Tahun kedua.
Tahun paling menyenangkan sejagad raya. Saya begitu bergelora. Hari-hari terasa
begitu menyenangkan. Saya dan beberapa teman kerap melakukan hal kampungan yang
sangat kacangan; Berjoget - menyanyi dangdut sambil tertawa serasa kami takkan
menjadi tua. Diimbangi suara pukulan galon yang tak beraturan. Seolah sedang melakukan tarian meminta hujan. Juga ramai-ramai mencicipi obat tetes
mata yang luar biasa perihnya. Atau sekadar bertukar cerita tentang lelaki
senasib di sebrang sana yang dikenali melalui jejaring sosial.
Pada langit-langit asrama yang kami titipkan doa dan pengharapan. Pada dinginnya lantai kamar yang menjadi saksi atas beragam pertanyaan dan keraguan. Pada tiap sudut ruangan.
Picisan putih abu-abu memang selalu jadi romansa yang didamba dan tak lekang dimakan usia.
Pada langit-langit asrama yang kami titipkan doa dan pengharapan. Pada dinginnya lantai kamar yang menjadi saksi atas beragam pertanyaan dan keraguan. Pada tiap sudut ruangan.
Picisan putih abu-abu memang selalu jadi romansa yang didamba dan tak lekang dimakan usia.
Aku terpaku. Semilir angin menggenapkan rinduku padamu. Dan Aku mulai
cemburu pada rumput yang mengayun bersama. Juga bambu-bambu yang berdampingan
begitu mesra.
. . .
Tahun ketiga. Waktu rasanya terlalu buru-buru ingin menyelesaikan masa penuh
makna ini. Rasanya belum ikhlas. Belum pantas. Belum waktunya untuk berakhir.
Rasa-rasanya Saya masih ingin mengalami gugup saat diinterogasi tim
kedisiplinan atau pada waktunya menyetor hafalan. Merasakan degup tak karuan saat
diam-diam bertemu pandang dengan pemilik nama yang kerap dirapal dalam doa. Dirundung hangatnya pelukan dari seorang teman dan kata-kata halus yang sabar mengobati keracauan
hati saat menuju penghabisan waktu. Sayup menderai doa yang merintih manja saat kerinduan sangat menghimpit. Atau indahnya rangkaian kata yang tersusun
dalam ajakan menuju masjid.
Atas nama kerlip-kemerlip masa lalu. Juga rajuk-merajuk yang terkurung
dalam pendar kuning lampu kamar. Kutunaskan sebuah bunga rindu. Di halaman
hatimu.
. . .
Kepada Kalian yang Memiliki Tawa Sederhana, Tentang Masa Muda
yang Begitu Mesra,
Terima kasih tak bertepi, untuk masa muda yang bergelora.
Sunday, January 25, 2015
Catatan Kerinduan #2
Aku terbangun
Pada sebuah gigil yang tak asing
Berselimut sabda dan perkara yang tak sedikitpun terlupa
Meninggalkanmu sendiri dalam angan
Tanpa sebuah pelukan dan jabat tangan
Membawa kembali sebuah takdir dalam terka yang berantakan
Lamat-lamat kutelan wajahmu
Dari secangkir kerinduan yang pekat
Hitam tanpa karat
Menelan getir yang memutar babak-babak tak beraturan; Syair-syair, angin dingin yang berdesir, serta perasaan dan prasangka yang kerap mampir lalu mangkir
Kita menyatu. Menurutku.
Terserah saja bila untukmu semua telah menjadi saru
Tapi lengkung keemasan pada tiap malamku tetaplah sudut bibirmu
Inilah sebuah kerinduan yang pekat
Pahit.
Namun penuh pesona untuk tetap digamit
Pada sebuah gigil yang tak asing
Berselimut sabda dan perkara yang tak sedikitpun terlupa
Meninggalkanmu sendiri dalam angan
Tanpa sebuah pelukan dan jabat tangan
Membawa kembali sebuah takdir dalam terka yang berantakan
Lamat-lamat kutelan wajahmu
Dari secangkir kerinduan yang pekat
Hitam tanpa karat
Menelan getir yang memutar babak-babak tak beraturan; Syair-syair, angin dingin yang berdesir, serta perasaan dan prasangka yang kerap mampir lalu mangkir
Kita menyatu. Menurutku.
Terserah saja bila untukmu semua telah menjadi saru
Tapi lengkung keemasan pada tiap malamku tetaplah sudut bibirmu
Inilah sebuah kerinduan yang pekat
Pahit.
Namun penuh pesona untuk tetap digamit
Subscribe to:
Posts (Atom)