Dalam sebuah kerinduan yang tenang
Tanpa sungut menuntut nasib
untuk kisah yang telah lama dijunjung
Bersama cerca dan sanjung yang bebas tak dipasung
Kita, akhirnya menemui penghujung
Setelah ribuan musim tak terelakkan;
Diranggas kepiluan, didekap lembab cuaca kepayahan, dan rangkai-rangkai kata berpolutan
Hingga tercerabut dari jiwa yang semula bertaut
Menjadikan perpisahan sebagai sebuah keharusan
***
Kudengar reranting dedaunan yang koyak
Melucuti kembang-kembang romansa yang berserak
Menyeok lagu masa depan yang berubah jadi sumbang
Ditalun angin kering nan gersang
Mengiringi perjalanan beda arah yang pincang
Mencari naungan baru untuk sebuah makna yang hilang:
Pulang
Sunday, February 22, 2015
Friday, January 30, 2015
Kepada. Tentang.
Ini adalah
kali kedua bagi Saya membuat sebuah tulisan yang terinspirasi dari teman-teman
semasa SMA. Setidaknya yang Saya posting.
Sebelumya di 2013, bertepatan dengan empat tahun pasca kami (para siswi
perempuan) menamai diri dengan “Envoletta”.
Saya berani bertaruh bahwa setidaknya ada puluhan tulisan ketengan yang
Saya tulis untuk mereka. Atau terinspirasi dari mereka. Karena kenangan di masa
itu memang terlalu banyak. Bahkan Saya sempat berniat mengikutsertakan beberapa tulisan
(dalam bentuk surat) ke sebuah forum penulis #KepadaTentang. Saya takut suatu hari menjadi pikun dan kenangan itu perlahan merabun. Maka ingatan indah tersebut harus segera diselamatkan. Surat itu kelak
akan Saya beri judul:
Kepada Kalian yang Memiliki Tawa Sederhana, Tentang Masa
Muda yang Begitu Mesra.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Ini adalah sebuah pengakuan mengenai
kerinduan dan ketidakberdayaan Saya mengucapkan terima kasih pada kalian. Satu
persatu. Dulu kita muda, kini beranjak dewasa. Saya menemui diri Saya dalam
wujud yang berbeda, menemukan rekanan-rekanan baru, menghidupi pola baru yang
terkadang bisa jadi menjemu, dan juga kekasih-kekasih dengan beragam rayu. Tapi
Saya selalu merasa pulang saat memangku kenangan tentang kalian. Yang dengan
mudahnya terngiang hanya sesaat setelah Saya melucuti foto-foto masa SMA. Dan
tulisan-tulisan selalu mengalir begitu saja. Seolah kata-kata syahdu memang
meluap dan tumpah tepat kepada jiwa-jiwa yang sudah lama didamba.
SMAI Nurul Fikri Boarding School. Saya pun tak ingat, kapan pastinya Saya begitu
mencintai tempat ini. Mencintai kalian. Mencintai tiap kenangan. Mencintai
seseorang yang menjadi salah satu inspirasi terhebat untuk beberapa tulisan.
. . .
Tahun pertama. Bersama seorang
perempuan cantik yang Saya anggap sebagai teman pertama di tempat ini, kami tak
pernah berhenti menjejali diri dengan berbagai umpatan dan keluhan. Malam-malam
menjadi begitu mengerikan; Membayangkan perempuan-perempuan seusia kami, di
luar sana, dengan bebas bersolek, menikmati pergaulan muda-mudi masa kini, atau
setidaknya terbebas dari hukuman jalan jongkok asrama - masjid karena
tidak ikut sholat berjama’ah. Sedang kami terkurung dalam “Jilbab Sejengkal
dari Sikut” dan “Area Cengkrama yang Hanya Sebatas Sekolah – Asrama”. Lalu kami
berbagi keluh dan dunia yang sepertinya sama. Setiap hari menyulam umpat hingga
membentuk sebuah pola.
Tidak ada yang istimewa. Penghiburan
rasanya hanya sebatas angin sepoi basah yang membelai wajah saat sesekali Saya
mencicipi sebuah bangku tua berkarat yang berkali dipulas cat biru agar tampak
baru. Sambil berkeliling pandang mencari secerca keseruan yang mungkin dapat Saya
lakukan. Tapi tak ada. Hanya desau dedaunan yang kerap menambah mahsyuk kerisauan.
Sedang bayang tentang masa SMA adalah masa terindah, telah Saya kubur
dalam-dalam. Bahkan sejak pertama kali Saya menjejaki tempat ini.
Sampai suatu pagi yang kaku datang. Saya
menyuarakan sebuah protes. Dengan segenap kebosanan yang menggumpal. Sebal. Saya
mendapati balasan. Sebuah perumpamaan luar biasa yang langsung tertuju hingga
ke bulu mata. Tentang kapur dan intan yang terbuat dari senyawa yang sama,
Carbon. Keduanya menjadi beda karena perbedaan waktu yang dilalui saat mendapatkan
tekanan. Kapur hanya tahunan, sedang bisa mencapai sekian windu bagi intan.
Sejak pagi itu, Saya tak lagi sama.
Selayak
istilah reinkarnasi, mungkin kurang lebih itu yang Saya alami. Saya mulai
menjalin percakapan, menemukan beberapa teman perempuan yang begitu
menyenangkan dalam bersenda. Beberapa di antaranya bahkan sungguh luar biasa.
Dan secara bersamaan, dari kejauhan, ada sepasang mata yang diam-diam berbinar. Juga kerap menghimpun debar.
Dan secara bersamaan, dari kejauhan, ada sepasang mata yang diam-diam berbinar. Juga kerap menghimpun debar.
. . .
Tahun kedua.
Tahun paling menyenangkan sejagad raya. Saya begitu bergelora. Hari-hari terasa
begitu menyenangkan. Saya dan beberapa teman kerap melakukan hal kampungan yang
sangat kacangan; Berjoget - menyanyi dangdut sambil tertawa serasa kami takkan
menjadi tua. Diimbangi suara pukulan galon yang tak beraturan. Seolah sedang melakukan tarian meminta hujan. Juga ramai-ramai mencicipi obat tetes
mata yang luar biasa perihnya. Atau sekadar bertukar cerita tentang lelaki
senasib di sebrang sana yang dikenali melalui jejaring sosial.
Pada langit-langit asrama yang kami titipkan doa dan pengharapan. Pada dinginnya lantai kamar yang menjadi saksi atas beragam pertanyaan dan keraguan. Pada tiap sudut ruangan.
Picisan putih abu-abu memang selalu jadi romansa yang didamba dan tak lekang dimakan usia.
Pada langit-langit asrama yang kami titipkan doa dan pengharapan. Pada dinginnya lantai kamar yang menjadi saksi atas beragam pertanyaan dan keraguan. Pada tiap sudut ruangan.
Picisan putih abu-abu memang selalu jadi romansa yang didamba dan tak lekang dimakan usia.
Aku terpaku. Semilir angin menggenapkan rinduku padamu. Dan Aku mulai
cemburu pada rumput yang mengayun bersama. Juga bambu-bambu yang berdampingan
begitu mesra.
. . .
Tahun ketiga. Waktu rasanya terlalu buru-buru ingin menyelesaikan masa penuh
makna ini. Rasanya belum ikhlas. Belum pantas. Belum waktunya untuk berakhir.
Rasa-rasanya Saya masih ingin mengalami gugup saat diinterogasi tim
kedisiplinan atau pada waktunya menyetor hafalan. Merasakan degup tak karuan saat
diam-diam bertemu pandang dengan pemilik nama yang kerap dirapal dalam doa. Dirundung hangatnya pelukan dari seorang teman dan kata-kata halus yang sabar mengobati keracauan
hati saat menuju penghabisan waktu. Sayup menderai doa yang merintih manja saat kerinduan sangat menghimpit. Atau indahnya rangkaian kata yang tersusun
dalam ajakan menuju masjid.
Atas nama kerlip-kemerlip masa lalu. Juga rajuk-merajuk yang terkurung
dalam pendar kuning lampu kamar. Kutunaskan sebuah bunga rindu. Di halaman
hatimu.
. . .
Kepada Kalian yang Memiliki Tawa Sederhana, Tentang Masa Muda
yang Begitu Mesra,
Terima kasih tak bertepi, untuk masa muda yang bergelora.
Sunday, January 25, 2015
Catatan Kerinduan #2
Aku terbangun
Pada sebuah gigil yang tak asing
Berselimut sabda dan perkara yang tak sedikitpun terlupa
Meninggalkanmu sendiri dalam angan
Tanpa sebuah pelukan dan jabat tangan
Membawa kembali sebuah takdir dalam terka yang berantakan
Lamat-lamat kutelan wajahmu
Dari secangkir kerinduan yang pekat
Hitam tanpa karat
Menelan getir yang memutar babak-babak tak beraturan; Syair-syair, angin dingin yang berdesir, serta perasaan dan prasangka yang kerap mampir lalu mangkir
Kita menyatu. Menurutku.
Terserah saja bila untukmu semua telah menjadi saru
Tapi lengkung keemasan pada tiap malamku tetaplah sudut bibirmu
Inilah sebuah kerinduan yang pekat
Pahit.
Namun penuh pesona untuk tetap digamit
Pada sebuah gigil yang tak asing
Berselimut sabda dan perkara yang tak sedikitpun terlupa
Meninggalkanmu sendiri dalam angan
Tanpa sebuah pelukan dan jabat tangan
Membawa kembali sebuah takdir dalam terka yang berantakan
Lamat-lamat kutelan wajahmu
Dari secangkir kerinduan yang pekat
Hitam tanpa karat
Menelan getir yang memutar babak-babak tak beraturan; Syair-syair, angin dingin yang berdesir, serta perasaan dan prasangka yang kerap mampir lalu mangkir
Kita menyatu. Menurutku.
Terserah saja bila untukmu semua telah menjadi saru
Tapi lengkung keemasan pada tiap malamku tetaplah sudut bibirmu
Inilah sebuah kerinduan yang pekat
Pahit.
Namun penuh pesona untuk tetap digamit
Saturday, January 3, 2015
Catatan Kerinduan #1
Aku melihatmu
Pada sebuah pesan yang dikirim melalui malam;
Wajahmu sepucat masa lalu
Senyum yang kau tawarkan bagai pagi berhujan yang kaku
Kau hadir di antara jerit bunga-bunga rekah
Membawa secangkir lelah dan rindu yang berdarah
Dua pasang mata kembali bertemu
Diam-diam saling melucuti ragu
Rasuk-merasuk pada mimpi yang tak henti melaju
Perlahan semesta memainkan lagu paling sendu
Bulan berubah merah jambu
Hening mencuat
Wajahmu menjadi hangat
Binar matamu menyergapi langit dalam bisu dan rindu yang pekat
Ya. Kau selalu diundang pulang
Oleh manisnya rintik hujan
Dan harum sumbang melodi kenangan
________________________//
Pada sebuah pesan yang dikirim melalui malam;
Wajahmu sepucat masa lalu
Senyum yang kau tawarkan bagai pagi berhujan yang kaku
Kau hadir di antara jerit bunga-bunga rekah
Membawa secangkir lelah dan rindu yang berdarah
Dua pasang mata kembali bertemu
Diam-diam saling melucuti ragu
Rasuk-merasuk pada mimpi yang tak henti melaju
Perlahan semesta memainkan lagu paling sendu
Bulan berubah merah jambu
Hening mencuat
Wajahmu menjadi hangat
Binar matamu menyergapi langit dalam bisu dan rindu yang pekat
Ya. Kau selalu diundang pulang
Oleh manisnya rintik hujan
Dan harum sumbang melodi kenangan
________________________//
Monday, November 24, 2014
Bunga Rindu
Bulan menahun. Lembar-lembar buku harian menguning dimakan waktu. Gambar pada sampul depannya mengabur. Menjadi saksi paling setia untuk nama yang selalu hadir pada tiap goresan pena.
Kutuliskan segenap rasa dan doa. Sebuah kebiasaan yang takkan mengerti makna jengah dan payah. Namamu masih saja tertera disana. Menggenapkan baris-baris kaku yang enggan sampai kepadamu.
Kita remaja, kini beranjak dewasa. Gelayut rindu pada purnama tak lantas jadi beda. Dirundung kenangan-kenangan yang tak pernah bosan dikecap dalam asa. Tidak sekalipun.
Isak rindu yang menjadi parau, mengurai babak demi babak yang hanya bisa didekap. Binar matamu ada disitu. Timbul-tenggelam di balik kepulan masa lalu. Terselip di antara racau pada malam-malamku yang sendu.
Kerelaan belum juga menyambangi beranda. Tapi mendung yang jatuh di matamu selalu mengetuk sanubari. Menyapa hatiku menjadi dingin dan sepi.
Atas nama kerlip-kemerlip masa lalu. Juga rajuk-merajuk yang terkurung dalam pendar kuning lampu kamar, kutunaskan sebuah bunga rindu.
Di halaman hatimu.
Sunday, October 26, 2014
Titipan pada Senja
Matahari belum jatuh, senja masih jauh
Rebahlah dulu di sisi dan mari merenda teduh
Bicara tentang seikat kembang dalam rasa yang luruh
Tentang tanya dan jawabnya yang tak pernah utuh
Sambil sesekali menyeruput sesal pada mimpi yang tak kunjung tunduh
Angin membelai mesra
Ditingkahi sayup harap pada eros jingga
Mengumbar kepul kenangan pada ranting-ranting jiwa
Detak berdansa
Meretas waktu, menggiringmu ditelan senja
Pulanglah kerinduan
Pada doa-doa yang bergumam perlahan
Pada pendar-padam penantian
Yang menggamit kesetiaan
Rebahlah dulu di sisi dan mari merenda teduh
Bicara tentang seikat kembang dalam rasa yang luruh
Tentang tanya dan jawabnya yang tak pernah utuh
Sambil sesekali menyeruput sesal pada mimpi yang tak kunjung tunduh
Angin membelai mesra
Ditingkahi sayup harap pada eros jingga
Mengumbar kepul kenangan pada ranting-ranting jiwa
Detak berdansa
Meretas waktu, menggiringmu ditelan senja
Pulanglah kerinduan
Pada doa-doa yang bergumam perlahan
Pada pendar-padam penantian
Yang menggamit kesetiaan
Di Penghujung Malam
Di penghujung malam
Resah bergulat dengan temaram
Jutaan Kali
Enggan dicuri pagi
Kau dan aku masih beradu pandang
Membiarkan anjing melolong panjang
Untuk kemudian tinggalkan cinta yang disandang
Ah, mengapa sekarang?
Mengapa menyerah saat belum satupun pahit yang kita terjang
Mengapa tak biarkan dulu riuh angin menari lebih lama
Untuk kemudian bersiul dalam hembus penuh cinta
Mengapa tak menunggu hingga jingga melambai
Untuk kemudian pekatnya langit menenggelamkan kita pada kisah yang takkan selesai
Ah, mengapa disini?
Mengapa berhenti saat belum satupun kemegahan kita singgahi
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus saga
Untuk kemudian bergradasi dan hilanglah segala dilema
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus sang surya
Untuk kemudian terbakar pada pesona cahaya dan jadi terlalu berharga
Mengapa sekarang?
Mengapa disini?
Padahal aku selalu pulang
Saat hanya kau yang menyambangi
Resah bergulat dengan temaram
Jutaan Kali
Enggan dicuri pagi
Kau dan aku masih beradu pandang
Membiarkan anjing melolong panjang
Untuk kemudian tinggalkan cinta yang disandang
Ah, mengapa sekarang?
Mengapa menyerah saat belum satupun pahit yang kita terjang
Mengapa tak biarkan dulu riuh angin menari lebih lama
Untuk kemudian bersiul dalam hembus penuh cinta
Mengapa tak menunggu hingga jingga melambai
Untuk kemudian pekatnya langit menenggelamkan kita pada kisah yang takkan selesai
Ah, mengapa disini?
Mengapa berhenti saat belum satupun kemegahan kita singgahi
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus saga
Untuk kemudian bergradasi dan hilanglah segala dilema
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus sang surya
Untuk kemudian terbakar pada pesona cahaya dan jadi terlalu berharga
Mengapa sekarang?
Mengapa disini?
Padahal aku selalu pulang
Saat hanya kau yang menyambangi
Subscribe to:
Posts (Atom)