Friday, September 12, 2014

Penutup

Sebuah permulaan yang merundung malu
Awan berarak teriring angin yang sendu
Diam-diam menyibak geliat asmara yang tersimpan di antara kau dan aku
........................................
Kata sudah habis
Tertelan ke dasar ragu tanpa bisa dikais
Keringnya cuaca menyusutkan kita hingga ke paling kerdil dan sinis
Khusyuk menjelaga kenisbian rasa yang sulit digubris
........................................
Mendadak sisa-sisa jadi begitu sia-sia
Dan rangkaian puisi ini telah sampai pada pusara
Sebuah penutup yang takkan habis diduga
Sebaris nama yang hanya bisa dilarungkan dalam doa

Sunday, May 4, 2014

Jika Muara dan Tuannya adalah Kau

Hai,
Senang mengenalmu
Senang mendengar cerca tanpa jeda yang bertaut di antara mimpi-mimpi jumawa
Ditemani secarik rasa yang entah apa namanya
Bersuguh gelas demi gelas terka yang bebas menari pada tiap sabda
Berdiskusi di bawah langit yang rona

Bahagia rasanya menggelar ribuan retorika
Tanpa paksa
Tanpa dikte yang huru-hara
Tanpa kehendak siapa
Sayang, tak bisa melenggang lebih lama
Persimpangan harus jua sampai pada muara
Relung harus jua sampai pada tuannya

Namun, jika purnama masih menerangi tanya
Dan kersik malam masih menyerukan sebuah nama
Disanalah daksa menemui maknanya

Tuesday, March 25, 2014

Kemari

Kau cantik
Senada pancar bulan yang teduh menenangkan
Purnamanya tak sempurna
Bergelayut rindu dan segala puja
Seperti eloknya paras sendu yang tergelar di wajahmu
Terbebas durja dan rona yang malu
Keduanya takkan tersapu perangai malam

Katamu, sewindu yang lalu

Kemari
Kemarilah
Berhentilah menyiksa diri dan rayu aku dengan sejuta puisi
Selayak kau takkan pergi dan mengembara seisi bumi

Kemari
Kemarilah
Datanglah dalam sekedipan mata
Maka akan kuhapus segala lara
Juga segenap masa lalu yang memenjara

Kemari
Kemarilah
Menjelmalah dalam tiap gugus doa yang selalu kubentang
Maka akan kuguratkan bait-bait kasih yang takkan henti bersarang
Yang takkan kalah meski cercaan waktu melintang-pukang

Kemari
Kemarilah
Sebelum hari-hariku jadi beku
Sebelum jiwaku tak lagi mengenalmu

Thursday, January 16, 2014

Meramai

Gemericik sisa hujan sore menetes pada gembur tanah
Mendendang dalam sungut tanpa petuah

Lamun mendiamkan jejak dalam jingga keemasan
Menyisakan tetes langit untuk malam
Denting jarum pada dinding
dan erang jangkrik-jangkrik di sudut halaman saling adu

Derap jantung memburu angin yang membawa resah
Susul-menyusul tak ingin sudah

Dingin menyusup dalam kersik
Memeluk hangatnya susu coklat yang enggan diteguk

Kata-kata lalu lalang menjadi kalimat
Mencuat minta diucap
Kalimat-kalimat saling singgung menjadi harap
Tersusun minta diserahkan pada langit
Dan harap-harap bermunculan menjadi payah
Menciut terbendung urung, tak tersampaikan
Terantuk di atas halaman sebuah buku harian yang terbuka
Belum juga sampai pada titiknya

Malam kian meramai

Pena merah jambu berkali diketuk bangunkan lamun yang tak ingin mereda
Tirai dan jerujinya bergesekkan
Mengantarkan dingin malam menjerat sesal yang mengudara
Tumpukan rindu bertebaran
Berantakan di atas khayal yang menjadi puing-puing diam
Berserakan pada harum kenang yang tinggal sesap

Dan pada sesal yang mendekam
Malam berhenti meramai

Sunday, July 14, 2013

Senja, Saksi Diorama

Sore itu, kita bertemu
Tak banyak semilir yang hadir, namun cukup sejuk membalut segala keresahan
Daun-daun flamboyan berjatuhan
Berhias harum rintik hujan
Di pikirku, ada tanya tak berujung yang menyangsikan
Di batinku, ada gumam panjang tak berkesudahan

Waktu, telah meniti pada saat
Kau hadir dalam senyum sederhana yang hangat
Membawa mimpi pada satu niat

Tak banyak cengkrama saat kita bersama
Membiarkan masing-masing berkutat dalam beragam tanya
Memaksa yang lain menerka-nerka
Menyusup dalam diam, mencari sebuah makna
Lalu bait indah itu hadir di antara

Kita kembali terdiam
Kembali bercakap dengan hati terdalam
Lalu khusyuk menjelaga rasa yang telah menyelam

Lalu kita, kau dan aku, menari dalam diorama
Berayun diiringi larik yang merona
Menyemai kasih pada mimpi yang kita jaga
Setia, meski senja berubah rupa

Wednesday, June 5, 2013

Level 4

Hidup terkadang seperti memainkan sebuah game. Melakukan perjalanan, melewati rintangan, berupaya agar musuh dapat ditaklukkan, mengumpulkan koin penambah kekuatan, menemukan karakter sebagai teman perjalanan, dan tujuan akhirnya adalah Sang Raja - dapat dikalahkan.

Dari level 1-6 dunia perkuliahan, gue sedang berada di level 4. So far, this level is my favorite. Perjalanan 6 bulan yang begitu mengesankan sekaligus penuh renungan.

Di level ini, gue menolak untuk melanjutkan sebuah hubungan yang memulainya saja penuh dengan retorika sana-sini, sangat bersungut.
Menemukan karakter yang bahkan senyumnya tak pantas disambut. Tapi dengan ketergesaan, malah menyunggingkan senyum merekah untuk kisah yang sama sekali tak patut.
Untuk pertama kalinya, tertunduk dalam kerumunan sajak yang selama ini dapat kubuat takluk.
Dan mematut penuh tanya dalam harap yang tak terwujud.

Ini bagian musuh.

Gue bisa saja diam sejenak sembari atur strategi, atau malah menyerahkan diri – memutuskan untuk mengakhiri permainan, melewatkan kemungkinan bertemu dengan berbagai karakter yang bisa jadi teman menyusuri perjalanan, berhenti mengumpulkan koin penambah kekuatan, dan menggugurkan kesempatan untuk mengalahkan Sang Raja.

Itu pilihan.

Akhirnya dengan improvisasi dan renungan sana-sini, I think I should to face it. Menyelesaikan permainan ini sampai selesai. Sampai level 6. 
Gue terus maju. Berupaya melupakan yang lalu-lalu.

Dalam perjalanan, gue bertemu dengan karakter heroik yang menjadikan dirinya sebagai pemandu dalam banyak hal. Secara bertahap menyadarkan bahwa kisah lalu yang tak patut, beragam diam yang carut, perlahan harus dibuat surut.
Menemukan karakter lain yang obrolan singkat antara kami adalah intermezzo sekaligus substansi yang sebaiknya sering dilakoni. Dengan semangat menyuarakan harap dan mimpi-mimpi yang berpadu dalam relevansi hidup dan imajinasi.
Dianugrahi posisi strategis dalam perhelatan besar dan sebuah misi.
Dan pundi-pundi lain yang seolah sedang mengisi tangki pendewasaan dalam diri.

Itu koin penambah kekuatan.

Level ini menyadarkan gue bahwa musuh dan koin penambah kekuatan akan selalu ada. Hadirnya beriringan, bisa jadi saling susul.
Musuh hadir sebagai teguran agar jangan terlalu lama terbahak dalam nuansa jumawa.
Koin penambah kekuatan hadir sebagai penopang agar jangan terlalu lama terkungkung dalam tanduhnya jiwa.
Keduanya hadir sebagai penyeimbang. Keduanya hadir agar tiap level kehidupan terasa selalu patut untuk diperjuangkan, untuk dimenangkan.

Kini, gue berada di penghujung level 4. Level pendewasaan. Didalamnya banyak gejolak yang perlu diselesaikan, kebahagiaan yang pantas dikisahkan, keputusan yang harus dipertanggungjawabkan, alur menyenangkan yang layak dipertahankan, serta sekarung cita-cita dan kesempatan yang patut diperjuangkan.

Gue berharap, koin-koin kekuatan yang sedang dikantongi, dapat dengan sukses mengantarkan pada singgasana Sang Raja dan mengalahkannya. Atau setidaknya, selalu bisa meyakinkan diri bahwa tiap level kehidupan, dalam bentuk apapun, selalu patut dijalani.

Untuk pendewasaan.

Sunday, May 12, 2013

Gelas Plastik dan Hati

Sore itu di sebuah coffee shop, Aku termenung. Gelas plastik berisi latte yang tak lagi penuh, telah diam menyeluruh. Membiarkanku dan segala tanya yang menyeruak menggaduh.
Berkerubung dalam akal yang tak lagi dapat berpagutan. Hanya tanya tanpa jawab yang bersahutan.
Batinku meneriakkan sebuah nama yang Aku sendiri tak dapat mengejanya. Menerawangi sebuah wajah, yang tak dapat Aku jelaga.
Begitu kosong. Namun untuk membuai rasa dalam sosok yang tak kunjung terjamah, dayaku terlalu lemah.
Begitu merindu. Namun untuk merengguh khayal dalam kisah baru, imajiku begitu sendu.
Entahlah...
Hati ini terlalu cepat menancapkan sekat. Membiarkan yang mungkin patut begitu saja terlewat.

Renung panjangku menggiring pada tegukan terakhir.
Gelas plastik kini kosong. Sama seperti birunya hati yang dibiarkan melolong. Terjebak harap dalam gelapnya lorong.
Tanpa kata, tanpa suara yang menyokong.

Gelas plastik dan hati, kini sama-sama tak terisi. Menyapih diam dalam tahtanya sendiri. Membiarkan siapa saja hadir menaungi. Ia tak terpaut waktu tuk datang dan pergi. Namun pada akhirnya, akan ada yang secara penuh mengisi, setelah berpuluh menyambangi.