Kau cantik
Senada pancar bulan yang teduh menenangkan
Purnamanya tak sempurna
Bergelayut rindu dan segala puja
Seperti eloknya paras sendu yang tergelar di wajahmu
Terbebas durja dan rona yang malu
Keduanya takkan tersapu perangai malam
Katamu, sewindu yang lalu
Kemari
Kemarilah
Berhentilah menyiksa diri dan rayu aku dengan sejuta puisi
Selayak kau takkan pergi dan mengembara seisi bumi
Kemari
Kemarilah
Datanglah dalam sekedipan mata
Maka akan kuhapus segala lara
Juga segenap masa lalu yang memenjara
Kemari
Kemarilah
Menjelmalah dalam tiap gugus doa yang selalu kubentang
Maka akan kuguratkan bait-bait kasih yang takkan henti bersarang
Yang takkan kalah meski cercaan waktu melintang-pukang
Kemari
Kemarilah
Sebelum hari-hariku jadi beku
Sebelum jiwaku tak lagi mengenalmu
Tuesday, March 25, 2014
Thursday, January 16, 2014
Meramai
Gemericik sisa hujan sore menetes pada gembur tanah
Mendendang dalam sungut tanpa petuah
Lamun mendiamkan jejak dalam jingga keemasan
Menyisakan tetes langit untuk malam
Mendendang dalam sungut tanpa petuah
Lamun mendiamkan jejak dalam jingga keemasan
Menyisakan tetes langit untuk malam
Denting jarum pada dinding
dan erang jangkrik-jangkrik di sudut halaman saling adu
dan erang jangkrik-jangkrik di sudut halaman saling adu
Derap jantung memburu angin yang membawa resah
Susul-menyusul tak ingin sudah
Dingin menyusup dalam kersik
Memeluk hangatnya susu coklat yang enggan diteguk
Kata-kata lalu lalang menjadi kalimat
Mencuat minta diucap
Mencuat minta diucap
Kalimat-kalimat saling singgung menjadi harap
Tersusun minta diserahkan pada langit
Tersusun minta diserahkan pada langit
Dan harap-harap bermunculan menjadi payah
Menciut terbendung urung, tak tersampaikan
Menciut terbendung urung, tak tersampaikan
Terantuk di atas halaman sebuah buku harian yang terbuka
Belum juga sampai pada titiknya
Belum juga sampai pada titiknya
Malam kian meramai
Pena merah jambu berkali diketuk bangunkan lamun yang tak ingin mereda
Tirai dan jerujinya bergesekkan
Mengantarkan dingin malam menjerat sesal yang mengudara
Mengantarkan dingin malam menjerat sesal yang mengudara
Tumpukan rindu bertebaran
Berantakan di atas khayal yang menjadi puing-puing diam
Berantakan di atas khayal yang menjadi puing-puing diam
Berserakan pada harum kenang yang tinggal sesap
Dan pada sesal yang mendekam
Malam berhenti meramai
Sunday, July 14, 2013
Senja, Saksi Diorama
Sore itu,
kita bertemu
Tak banyak
semilir yang hadir, namun cukup sejuk membalut segala keresahan
Daun-daun
flamboyan berjatuhan
Berhias
harum rintik hujan
Di pikirku,
ada tanya tak berujung yang menyangsikan
Di batinku,
ada gumam panjang tak berkesudahan
Waktu, telah
meniti pada saat
Kau hadir
dalam senyum sederhana yang hangat
Membawa
mimpi pada satu niat
Tak banyak
cengkrama saat kita bersama
Membiarkan
masing-masing berkutat dalam beragam tanya
Memaksa yang
lain menerka-nerka
Menyusup
dalam diam, mencari sebuah makna
Lalu bait
indah itu hadir di antara
Kita kembali
terdiam
Kembali
bercakap dengan hati terdalam
Lalu khusyuk
menjelaga rasa yang telah menyelam
Lalu kita,
kau dan aku, menari dalam diorama
Berayun
diiringi larik yang merona
Menyemai
kasih pada mimpi yang kita jaga
Setia, meski
senja berubah rupa
Wednesday, June 5, 2013
Level 4
Hidup terkadang seperti memainkan
sebuah game. Melakukan perjalanan, melewati rintangan, berupaya agar musuh dapat ditaklukkan, mengumpulkan koin penambah kekuatan, menemukan karakter sebagai teman perjalanan, dan tujuan
akhirnya adalah Sang Raja - dapat dikalahkan.
Dari level 1-6 dunia perkuliahan, gue sedang berada
di level 4. So far, this level is my favorite. Perjalanan 6 bulan yang begitu
mengesankan sekaligus penuh renungan.
Di level ini, gue menolak untuk
melanjutkan sebuah hubungan yang memulainya saja penuh dengan retorika sana-sini, sangat bersungut.
Menemukan karakter yang bahkan senyumnya
tak pantas disambut. Tapi dengan ketergesaan, malah menyunggingkan senyum
merekah untuk kisah yang sama sekali tak patut.
Untuk pertama kalinya, tertunduk
dalam kerumunan sajak yang selama ini dapat kubuat takluk.
Dan mematut penuh tanya dalam
harap yang tak terwujud.
Ini bagian musuh.
Gue bisa saja diam sejenak sembari
atur strategi, atau malah menyerahkan diri – memutuskan untuk mengakhiri
permainan, melewatkan kemungkinan bertemu dengan berbagai karakter yang bisa jadi teman menyusuri perjalanan, berhenti mengumpulkan koin penambah kekuatan, dan menggugurkan kesempatan untuk mengalahkan Sang
Raja.
Itu pilihan.
Akhirnya dengan improvisasi dan
renungan sana-sini, I think I should to face it. Menyelesaikan permainan ini
sampai selesai. Sampai level 6.
Gue terus maju. Berupaya melupakan yang lalu-lalu.
Dalam perjalanan, gue bertemu dengan karakter heroik yang menjadikan dirinya sebagai pemandu dalam
banyak hal. Secara bertahap menyadarkan bahwa kisah lalu yang tak patut, beragam diam yang carut, perlahan harus dibuat surut.
Menemukan karakter lain yang
obrolan singkat antara kami adalah intermezzo sekaligus substansi yang
sebaiknya sering dilakoni. Dengan semangat menyuarakan harap dan mimpi-mimpi yang berpadu dalam relevansi hidup dan imajinasi.
Dianugrahi posisi strategis dalam perhelatan besar dan sebuah misi.
Dan pundi-pundi lain
yang seolah sedang mengisi tangki pendewasaan dalam diri.
Itu koin penambah kekuatan.
Level ini menyadarkan gue bahwa
musuh dan koin penambah kekuatan akan selalu ada. Hadirnya beriringan, bisa
jadi saling susul.
Musuh hadir sebagai teguran agar
jangan terlalu lama terbahak dalam nuansa jumawa.
Koin penambah kekuatan hadir
sebagai penopang agar jangan terlalu lama terkungkung dalam tanduhnya jiwa.
Keduanya hadir sebagai
penyeimbang. Keduanya hadir agar tiap level kehidupan terasa selalu patut untuk
diperjuangkan, untuk dimenangkan.
Kini, gue berada di penghujung
level 4. Level pendewasaan. Didalamnya banyak gejolak yang perlu diselesaikan, kebahagiaan
yang pantas dikisahkan, keputusan yang harus dipertanggungjawabkan, alur
menyenangkan yang layak dipertahankan, serta sekarung cita-cita dan kesempatan
yang patut diperjuangkan.
Gue berharap, koin-koin kekuatan
yang sedang dikantongi, dapat dengan sukses mengantarkan pada singgasana Sang
Raja dan mengalahkannya. Atau setidaknya, selalu bisa meyakinkan diri bahwa tiap
level kehidupan, dalam bentuk apapun, selalu patut dijalani.
Untuk
pendewasaan.
Sunday, May 12, 2013
Gelas Plastik dan Hati
Sore itu di sebuah coffee shop, Aku termenung. Gelas plastik berisi latte yang
tak lagi penuh, telah diam
menyeluruh. Membiarkanku dan segala tanya yang menyeruak menggaduh.
Berkerubung
dalam akal yang tak lagi dapat berpagutan. Hanya tanya tanpa jawab yang bersahutan.
Batinku
meneriakkan sebuah nama yang Aku sendiri tak dapat mengejanya. Menerawangi
sebuah wajah, yang tak dapat Aku jelaga.
Begitu
kosong. Namun untuk membuai rasa dalam sosok yang tak kunjung terjamah,
dayaku terlalu lemah.
Begitu
merindu. Namun untuk merengguh
khayal dalam kisah baru, imajiku begitu sendu.
Entahlah...
Hati ini terlalu cepat
menancapkan sekat. Membiarkan yang
mungkin patut begitu saja terlewat.
Renung
panjangku menggiring pada tegukan terakhir.
Gelas
plastik kini kosong. Sama seperti birunya hati yang dibiarkan melolong. Terjebak harap dalam gelapnya lorong.
Tanpa kata, tanpa suara yang menyokong.
Gelas
plastik dan hati, kini sama-sama tak terisi. Menyapih diam dalam tahtanya
sendiri. Membiarkan siapa saja hadir menaungi. Ia tak terpaut waktu tuk datang dan pergi. Namun pada akhirnya, akan ada yang secara penuh mengisi, setelah berpuluh menyambangi.
Thursday, April 25, 2013
Tersekat
“Hai, apa kabar? Semuanya baik-baik saja, kan?”
Kalimat itu berulang kali kucoba tanyakan padamu. Namun
tersekat. Terhalang ragu.
Beredar, kemudian hanya bergeming dalam pikirku.
Ya, mungkin Aku belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalu.
Aku tahu Kau tahu itu.
Aku masih saja mendiami masa lalu.
Enggan bangkit. Dan menggubris kenangan bersamamu memang
sulit.
Saat kita duduk berhadapan dan saling tatap.
Meski tak banyak kata yang terucap.
Namun binar matamu sudah cukup.
Seolah kata memang tak perlu hadir untuk menjelaskan.
Kisah baru telah dengan tergesa menjemput. Beragam alur
datang dengan rupa seolah patut.
Meski ragu, akhirnya Aku manggut. Menyetujui untuk masuk dan
larut.
Awalnya kukira bisa lama terlarung dalam kisah baru.
Awalnya.
Nyatanya kenangan masih saja bersungut. Menahan langkah dan
menyisakan kalut.
Adakah kita kan kembali terpaut? Setelah kueja namamu dalam
diam yang carut.
Dan deretan kata yang tersekat masih saja sama.
“Hai, apa kabar? Semuanya baik-baik saja, kan?”
Friday, March 29, 2013
Kala
Kau tak memilih kata. Yang kau tahu hanya kekuatan rasa. Kegundahan yang
kau semai dalam beragam dilema, atau bahagia yang kau pelihara di atas
bentangan cinta.
Kau tak memilih alur. Yang kau ikuti
adalah logika dan rasa yang membaur. Diujungnya mungkin ada sesal yang melebur,
atau akhir dengan gempita yang membalur.
Menjelagalah jiwamu dalam manusia
yang beriak. Biarkan pikirmu tenang sejenak. Diam dan menunggu renungmu ada
yang menyibak.
....................................
Seseorang dari masa depan datang
menyapa. Menyita fokusmu yang mengudara. Merangkul keras hatimu yang mulai
kehilangan daya.
Kau tak memilih
kata, tak juga memilih alur cerita.
Karena rasa telah tercipta.
Kala ia menyapa.
Subscribe to:
Posts (Atom)