Kepada Ibu, Ermawati Rasyid
Di suatu sore yang tidak sewarna senja, saya begitu merindukan ibu. Meski sebelum berangkat telah saya hirup punggung tangan ibu dan telah ibu kecup kening saya.
Meski tiap hari telah ibu hidangkan cerita hangat nan sederhana, juga meski tiap malam telah ibu roncekan doa-doa penangkal petaka.
Saya rindu kulit ibu yang dingin dan menipis. Bersalur riput-riput sewarna akasia dan alga.
Saya rindu bilah bibir ibu yang pucat, yang tiap keluar rumah harus dipulaskan gincu agar terlihat seranum delima.
Saya rindu lengan ibu, jari-jari yang berbuku, juga sepasang kaki yang dikerumuni tahi lalat yang hampir tiap malam saya pijat hingga ibu lelap tidur oleh pengabdian yang tak seberapa.
Bu, saya menangis saat menulis surat ini. Deras sekali.
Sederas hujan di Bulan September pada sore yang sungguh semrawut;
Orang-orang saling sikut,
jalan-jalan berubah carut,
dan cibir-cibir saling sahut.
Saya sayang ibu, doakan langkah saya selalu.
Dari anak ketigamu, yang akan terus menjadi anak-anak;
Menggambar batu dan bunga-bunga,
melumat pasir dan kembang gula.
Yang selalu belajar bagaimana berkata-kata dan memaknai dunia,
Zerlinda Siswati Zuhdi
Wednesday, November 30, 2016
Dari Bangku Penumpang Bus Kota (1)
Hujan;
Ruas-ruas jalan nyalak
Pasar-pasar sesak
Rindu-rindu mengerak
Lamun-lamun seruak
Dosa-dosa mengelak
Warung Kopi dan Basa-basi
Bolehkah
saya memesan meja untuk kita berdua?
Kecil
saja,
yang
penting cukup untuk meletakkan secangkir kopi
dan
menumpahkan isi kepala
Sepertinya
percakapan sederhana memang tercipta di warung-warung kopi
Di
antara kepulan asap yang mengepung dan menjarahi pori-pori
Berkepulan
tak tahu diri, mengerubungi basa-basi dan kalimat-kalimat prediksi
Barangkali
kamu akan menyeruputi kopimu perlahan
Mengecap
getirnya lamat-lamat
Membekap
waktu agar tak bergerak maju
Sambil
menawarkan pertanyaan-pertanyaan yang membentur ujung meja
Barangkali
saya akan terus menghidangkan cerita
Tentang
debu, akar pohon, semut dan gula-gula, sepasang mata
atau
apa saja yang dapat memenuhi meja
Jika
akhirnya surat ini berhasil mengundangmu, mari kita mulai.
“Bisakah
saya memesan sedikit keberanian untuk kita berdua?
Sebab
kita, saya dan kamu,
sepertinya
terlalu takut untuk kembali bersuara.”
Saturday, July 2, 2016
Sebab, di luar Hujan
Aku ingin menangkupmu
Dalam semangkuk rindu
Mengirup uap hangat yang menguar cepat
Sebab, di luar hujan
Aku ingin melumatmu tak bersisa
Hingga ke tiap liuk dan geliat yang tercipta
Sebab, di luar hujan
Aku ingin menyeruputi derai yang menciptakan senyap
Mengobati riuh hasrat dengan kejap
Sebab, di luar hujan
Maka kemarilah,
Wahai indomie rebus soto ayam
Sebab, di luar hujan
...
Puisi dan Nama adalah Doa
Aku hendak menuliskan puisi romantis
Pada malam yang risau dan gugup
Sebab wajahmu tak tertelan oleh pekatnya
malam: lampu-lampu padam
dan semua tubuh begitu khusyuk membunuh
lelah dari asap knalpot dan setumpuk tuntutan di meja kerja
Kau mengerling tak kenal waktu
Menyusupi langit-langit kamar juga rak
buku
Aku hendak menuliskan kisah utopis
Pada pagi yang berdebar dan malu
sebab hangat kedua lenganmu
menyatu dalam secangkir teh yang
kuseruputi
Berkepulan dalam hirup yang mendulang
lesung di pipi
Aku hendak menulis lagi di lain hari
kali ini bukan puisi
bukan juga utopia dari mimpi:
Sebaris namamu
Derit Roda dan Isi Kepala
(1)
Kita pulang
Meninggalkan ruang yang berjejal peluh dan wajah kuyu
Melewati rimbun semak, jalan setapak, juga ranting-ranting patah
yang melahirkan pengakuan dan puisi
menuju stasiun yang menyisakan lengang dan sepi
Yang ramai hanya derit barisan roda
barangkali juga isi kepala
(2)
Kita pulang
Memanggul rindu dari balik punggung yang melintas
Memasuki peron yang menjaraki sapa dan tanda tanya
Berlaju memecah angin berdebu
Juga celah di antara tatap yang tak lagi bertemu
(3)
Kita pulang
Memalingkan wajah menuju entah
Membasuh malam
Meniduri pikiran-pikiran kusut
Mengurai waktu
lalu bersetia menunggu
Thursday, May 19, 2016
Puisi untuk Hari Puisi
Hari ini 67 tahun lalu,
Chairil wafat, sayang
ditimbun doa-doa penyelinap dalam sajak yang terucap
Ia lahir dari keringat susu yang mengandung makna pulang
Menjadikannya binatang jalang
Dibesarkan oleh pergolakan masa muda
oleh arogansi manusia-manusia papa
oleh kerisauan yang melahirkan kata-kata
Ia terus lahir
bersama surat-surat cinta yang mengisi kotak pos sewarna senja,
bersama harap yang dikepulkan ke langit sebagai penangkal petaka,
bersama malam yang menyelingkuhi langit pusara
Ia menikahi sunyi dan tak pernah mati
Menuliskan mantra-mantra patah hati
Menjejal hidup, mencari arti;
Mengekalkan diri dalam lembar-lembar puisi
Chairil wafat, sayang
ditimbun doa-doa penyelinap dalam sajak yang terucap
Ia lahir dari keringat susu yang mengandung makna pulang
Menjadikannya binatang jalang
Dibesarkan oleh pergolakan masa muda
oleh arogansi manusia-manusia papa
oleh kerisauan yang melahirkan kata-kata
Ia terus lahir
bersama surat-surat cinta yang mengisi kotak pos sewarna senja,
bersama harap yang dikepulkan ke langit sebagai penangkal petaka,
bersama malam yang menyelingkuhi langit pusara
Ia menikahi sunyi dan tak pernah mati
Menuliskan mantra-mantra patah hati
Menjejal hidup, mencari arti;
Mengekalkan diri dalam lembar-lembar puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)