Wednesday, November 30, 2016

Kepada Ibu

Kepada Ibu, Ermawati Rasyid

Di suatu sore yang tidak sewarna senja, saya begitu merindukan ibu. Meski sebelum berangkat telah saya hirup punggung tangan ibu dan telah ibu kecup kening saya.
Meski tiap hari telah ibu hidangkan cerita hangat nan sederhana, juga meski tiap malam telah ibu roncekan doa-doa penangkal petaka.

Saya rindu kulit ibu yang dingin dan menipis. Bersalur riput-riput sewarna akasia dan alga.
Saya rindu bilah bibir ibu yang pucat, yang tiap keluar rumah harus dipulaskan gincu agar terlihat seranum delima.
Saya rindu lengan ibu, jari-jari yang berbuku, juga sepasang kaki yang dikerumuni tahi lalat yang hampir tiap malam saya pijat hingga ibu lelap tidur oleh pengabdian yang tak seberapa.

Bu, saya menangis saat menulis surat ini. Deras sekali.
Sederas hujan di Bulan September pada sore yang sungguh semrawut;
Orang-orang saling sikut,
jalan-jalan berubah carut,
dan cibir-cibir saling sahut.

Saya sayang ibu, doakan langkah saya selalu.


Dari anak ketigamu, yang akan terus menjadi anak-anak;
Menggambar batu dan bunga-bunga,
melumat pasir dan kembang gula.

Yang selalu belajar bagaimana berkata-kata dan memaknai dunia,
Zerlinda Siswati Zuhdi

Dari Bangku Penumpang Bus Kota (1)

Hujan;

Ruas-ruas jalan nyalak
Pasar-pasar sesak
Rindu-rindu mengerak
Lamun-lamun seruak
Dosa-dosa mengelak

Warung Kopi dan Basa-basi

Bolehkah saya memesan meja untuk kita berdua?
Kecil saja,
yang penting cukup untuk meletakkan secangkir kopi
dan menumpahkan isi kepala

Sepertinya percakapan sederhana memang tercipta di warung-warung kopi
Di antara kepulan asap yang mengepung dan menjarahi pori-pori
Berkepulan tak tahu diri, mengerubungi basa-basi dan kalimat-kalimat prediksi

Barangkali kamu akan menyeruputi kopimu perlahan
Mengecap getirnya lamat-lamat
Membekap waktu agar tak bergerak maju
Sambil menawarkan pertanyaan-pertanyaan yang membentur ujung meja

Barangkali saya akan terus menghidangkan cerita
Tentang debu, akar pohon, semut dan gula-gula, sepasang mata
atau apa saja yang dapat memenuhi meja



Jika akhirnya surat ini berhasil mengundangmu, mari kita mulai.

“Bisakah saya memesan sedikit keberanian untuk kita berdua?
Sebab kita, saya dan kamu,


sepertinya terlalu takut untuk kembali bersuara.”

Saturday, July 2, 2016

Sebab, di luar Hujan

Aku ingin menangkupmu
Dalam semangkuk rindu
Mengirup uap hangat yang menguar cepat
Sebab, di luar hujan

Aku ingin melumatmu tak bersisa
Hingga ke tiap liuk dan geliat yang tercipta
Sebab, di luar hujan

Aku ingin menyeruputi derai yang menciptakan senyap
Mengobati riuh hasrat dengan kejap
Sebab, di luar hujan

Maka kemarilah,
Wahai indomie rebus soto ayam

Sebab, di luar hujan

...

Puisi dan Nama adalah Doa

Aku hendak menuliskan puisi romantis
Pada malam yang risau dan gugup
Sebab wajahmu tak tertelan oleh pekatnya malam: lampu-lampu padam
dan semua tubuh begitu khusyuk membunuh lelah dari asap knalpot dan setumpuk tuntutan di meja kerja
Kau mengerling tak kenal waktu
Menyusupi langit-langit kamar juga rak buku

Aku hendak menuliskan kisah utopis
Pada pagi yang berdebar dan malu
sebab hangat kedua lenganmu
menyatu dalam secangkir teh yang kuseruputi
Berkepulan dalam hirup yang mendulang lesung di pipi

Aku hendak menulis lagi di lain hari
kali ini bukan puisi
bukan juga utopia dari mimpi:


Sebaris namamu

Derit Roda dan Isi Kepala

(1)
Kita pulang
Meninggalkan ruang yang berjejal peluh dan wajah kuyu
Melewati rimbun semak, jalan setapak, juga ranting-ranting patah
yang melahirkan pengakuan dan puisi
menuju stasiun yang menyisakan lengang dan sepi

Yang ramai hanya derit barisan roda
barangkali juga isi kepala

(2)
 Kita pulang
Memanggul rindu dari balik punggung yang melintas
Memasuki peron yang menjaraki sapa dan tanda tanya

Berlaju memecah angin berdebu
Juga celah di antara tatap yang tak lagi bertemu

(3)
Kita pulang
Memalingkan wajah menuju entah
Membasuh malam
Meniduri pikiran-pikiran kusut

Mengurai waktu
lalu bersetia menunggu

Thursday, May 19, 2016

Puisi untuk Hari Puisi

Hari ini 67 tahun lalu,
Chairil wafat, sayang
ditimbun doa-doa penyelinap dalam sajak yang terucap

Ia lahir dari keringat susu yang mengandung makna pulang
Menjadikannya binatang jalang

Dibesarkan oleh pergolakan masa muda
oleh arogansi manusia-manusia papa
oleh kerisauan yang melahirkan kata-kata

Ia terus lahir
bersama surat-surat cinta yang mengisi kotak pos sewarna senja,
bersama harap yang dikepulkan ke langit sebagai penangkal petaka,
bersama malam yang menyelingkuhi langit pusara

Ia menikahi sunyi dan tak pernah mati
Menuliskan mantra-mantra patah hati
Menjejal hidup, mencari arti;

Mengekalkan diri dalam lembar-lembar puisi