Tuesday, November 17, 2015

Bising

Semua menuntut hak
Meriuh decak
Bergumul adu congkak

Bising

Saling sikut
Masing-masing merasa paling patut
Komentar ketengan berubah carut
Semrawut!

Bising

Aku merindu rumah
Rindu teduhnya petuah
dari dua bilah bibirmu yang tak dijajah
Yang bersorai tak kenal lelah

Sandaran terbaik tanpa perlu berubah

Friday, October 9, 2015

Buku, Pesta, dan Cinta

Tiap sore, paling tidak dua kali dalam seminggu, aku berjalan menuju surga
Menapaki karpet keemasan laksana sepatu pesta
Berlatar hutan utopis dan gairah para remaja

Kau benar adanya
Hutan itu membisikkan sebuah mantra
Sesekali namamu mengiang di sana
Ditimpali kersik dari bermacam sabda

Mengingatkanku bahwa tak ada yang lebih mempesona dari kisah sang idealis
Menyuarakan tunas asmara dan geloranya yang perlahan tumbuh dari kata romantis

Kau paling mahir merapal asa dalam tumpukan buku
Kau yang paling lihai berdansa dalam jingkat-jingkat nakal dan keangkuhan masa lalu
Kau juga yang paling syahdu mereguk rasa di antara banyaknya pria yang menawarkan rindu dan cemburu

Kau kah itu,
Buku, pesta, dan cinta
masa mudaku?

Thursday, August 13, 2015

Sebuah Awal untuk Jeda yang Panjang

Begini, kali ini Aku sedang enggan berpuisi. Meski puisi memang satu-satunya cara untuk memanggilmu, Aku sungguh tak peduli. Jika kau benar punya hati, pada akhirnya Kau akan kembali.



Suatu pagi--di antara kelebat para kekasih, harap dan cemas yang saling tindih, juga reracau yang membuih--Aku menemukanmu di sela jeruji jendela. Terbelai tirai yang tiap pagi kubuka: Cara terbaik mengundang surya menandangkan berkas hangatnya ke dalam kamar. Tak seberapa besar, tapi selalu cukup untuk menaungi sifat kekanakanmu dan menghadapinya dengan sepenuh sabar. Meski begitu, tidak tiap saat Aku dibuatnya sebal, karena kerinduan justru lebih sering menjejal.

Lekat-lekat kupandangi senyum yang Kau persembahkan pagi itu; Manis putik sari, dingin udara melankoli. Temuan terdalam dari sanubari.

Tak ada celoteh penuh jenaka. Tidak juga berbincang-mereka ulang masa silam, terlebih meminta agar sepasang mata cognac ini setia memandangi garis halus yang semburat saat tawamu mencuat. Kau hanya bilang, bahwa rindu sedang hebat-hebatnya menyerang. Dan Kau memilih menyerah kalah. Pasrah.

Maka disinilah Kau berada. Sekadar melayangkan pandang pada paras yang menghiasi masa muda; Berjibaku dengan jadwal kuliah dan pementasan drama, mengurusi organisasi dari pagi sampai gila, berkutat dengan tugas tanpa mandat dari yang kacangan hingga level jumawa, lalu pada akhirnya lulus dengan dada membusung lengkap bertoga.

Jangan lagi percaya,” katamu sebelum akhirnya menutup perjumpaan singkat pagi itu.

Luka selalu punya cara membenamkan dirinya sendiri. Selamat pagi.”


Kita berdamai, lalu kau pergi.

Melepas pagi yang tak menyisakan sedikitpun melankoli.



Kali ini Aku sedang enggan berpuisi. Meski puisi memang satu-satunya cara untuk memanggilmu, Aku sungguh tak peduli. Jika kau benar punya hati, pada akhirnya Kau akan kembali.

Tuesday, June 16, 2015

Catatan Kerinduan #5

Selasa pertama di Januari
Mematuk lantai, berdansa elegi
Tidak matamu yang bergurat
Tidak juga rekah senyumnya yang semburat
Sendiri menari racau mengikuti putik-putik firasat

Ada rona melebam takluk
Pada rangkai kata yang membuat bunga-bunga tidurku gemelatuk
Pada pertemuan yang membuat gurau terbebas dari segala kikuk

Ada asa menyihir enggan
Pada selekat-lekatnya tatap yang menggetarkan
Juga pada lelucon-lelucon kehidupan

Namun kepulangan tetaplah sapa yang mendiami sela jarimu,
Tetaplah hangat di balik blus abu-abu kesukaanmu,
Juga kasih yang kau sentuhkan dalam doa malam yang kau ramu

Memeluk persimpangan
Menapaki teka-teki yang takdir tawarkan
Tak berarti rasa menyeluruh berpulang
Lantas membenamkan rindu pada muasal sarang

Laksana seberkas benderang

Datang



Lalu pergi sembarang

Tuesday, April 28, 2015

Prolog

Hujan jatuh perlahan
Merembesi tiap harap yang tertahan
Dan pada kata yang tak tersampaikan,
dititipkan sebuah pesan ; kerinduan

Malam kedatangan nyalang
Ditengarai hujan yang tak kunjung hilang
Ada makna di balik wajah itu ; pulang

Angin menyusup rintik
Ialah kau dan hujan yang sama-sama tahu bagaimana caranya menyimpan dan menyibak kenangan dalam pandora yang cantik
Tak peduli meski langit sedang sangat sarkastik
Bahwa segala tentang kita, begitu dingin dan mistik

Jika rindu diartikan kepulangan
Kemarilah bicara tentang penantian
Seperti murai yang mengabdi pada pagi dan rerimbunan
Seperti fajar keemasan, yang terjaga saat kota lahir sampai tiba sesak pencarian
Seperti jarak yang tak bertepi ; pengharapan



(Kolaborasi Puisi Ketengan Bersama Kenang Sukmo Ajie)

Saturday, April 18, 2015

Lelatu Hari Minggu

Pagi itu ada yang meletup
Sebuah kerinduan yang mengerjap dalam degup
Dikisahkan desau alam yang setia pada pagi dan udara merah jambu
Namamu disitu
Tertera tak berragu
Bergelayut pada wajah yang menantang masa lalu

Sore itu ada yang meletup
Di atas kemacetan Jakarta
Di bawah langit biru pucat menuju jingga
Seorang kawan mengisahkan carik-carik roman di antara reguk susu dingin hingga manisnya tak bersisa
Mungkin hanya pelipur lara
Mungkin juga mengandung doa
Ah, rupanya semesta mendengar dengan saksama

Malam itu ada yang meletup
Sebait sapa tanpa rasa gugup
Melesat. Mendesing. Berkilatan cahaya
Seolah rona memang diundang hadir ke udara
Untuk menjawab beragam terka

Saturday, March 28, 2015

Catatan Kerinduan #4

Tentang perkara dan perasaan yang mengantarkan kita pada sebuah pengakuan
Di bawah singut malam yang tak berkesudahan,
rindu dan pilu bertemu
Tak habis mengoceh tentang peliknya romansa;
mana yang berdansa, mana yang nelangsa

Tersesat dalam gamang di tengah perjalanan pulang
Menuju rumah berkelip kunang
Serta hangat yang takkan lekang
Yang dengan mesra menaungi segala puisi
Caci maupun puji

Mengamini sebuah keraguan di tengah persimpangan;
Halaman hatimu
Atau
Jiwanya

Waktu menebar asa
Segala melompat tergesa


Aku mati rasa