Aku terbangun
Pada sebuah gigil yang tak asing
Berselimut sabda dan perkara yang tak sedikitpun terlupa
Meninggalkanmu sendiri dalam angan
Tanpa sebuah pelukan dan jabat tangan
Membawa kembali sebuah takdir dalam terka yang berantakan
Lamat-lamat kutelan wajahmu
Dari secangkir kerinduan yang pekat
Hitam tanpa karat
Menelan getir yang memutar babak-babak tak beraturan; Syair-syair, angin dingin yang berdesir, serta perasaan dan prasangka yang kerap mampir lalu mangkir
Kita menyatu. Menurutku.
Terserah saja bila untukmu semua telah menjadi saru
Tapi lengkung keemasan pada tiap malamku tetaplah sudut bibirmu
Inilah sebuah kerinduan yang pekat
Pahit.
Namun penuh pesona untuk tetap digamit
Sunday, January 25, 2015
Saturday, January 3, 2015
Catatan Kerinduan #1
Aku melihatmu
Pada sebuah pesan yang dikirim melalui malam;
Wajahmu sepucat masa lalu
Senyum yang kau tawarkan bagai pagi berhujan yang kaku
Kau hadir di antara jerit bunga-bunga rekah
Membawa secangkir lelah dan rindu yang berdarah
Dua pasang mata kembali bertemu
Diam-diam saling melucuti ragu
Rasuk-merasuk pada mimpi yang tak henti melaju
Perlahan semesta memainkan lagu paling sendu
Bulan berubah merah jambu
Hening mencuat
Wajahmu menjadi hangat
Binar matamu menyergapi langit dalam bisu dan rindu yang pekat
Ya. Kau selalu diundang pulang
Oleh manisnya rintik hujan
Dan harum sumbang melodi kenangan
________________________//
Pada sebuah pesan yang dikirim melalui malam;
Wajahmu sepucat masa lalu
Senyum yang kau tawarkan bagai pagi berhujan yang kaku
Kau hadir di antara jerit bunga-bunga rekah
Membawa secangkir lelah dan rindu yang berdarah
Dua pasang mata kembali bertemu
Diam-diam saling melucuti ragu
Rasuk-merasuk pada mimpi yang tak henti melaju
Perlahan semesta memainkan lagu paling sendu
Bulan berubah merah jambu
Hening mencuat
Wajahmu menjadi hangat
Binar matamu menyergapi langit dalam bisu dan rindu yang pekat
Ya. Kau selalu diundang pulang
Oleh manisnya rintik hujan
Dan harum sumbang melodi kenangan
________________________//
Monday, November 24, 2014
Bunga Rindu
Bulan menahun. Lembar-lembar buku harian menguning dimakan waktu. Gambar pada sampul depannya mengabur. Menjadi saksi paling setia untuk nama yang selalu hadir pada tiap goresan pena.
Kutuliskan segenap rasa dan doa. Sebuah kebiasaan yang takkan mengerti makna jengah dan payah. Namamu masih saja tertera disana. Menggenapkan baris-baris kaku yang enggan sampai kepadamu.
Kita remaja, kini beranjak dewasa. Gelayut rindu pada purnama tak lantas jadi beda. Dirundung kenangan-kenangan yang tak pernah bosan dikecap dalam asa. Tidak sekalipun.
Isak rindu yang menjadi parau, mengurai babak demi babak yang hanya bisa didekap. Binar matamu ada disitu. Timbul-tenggelam di balik kepulan masa lalu. Terselip di antara racau pada malam-malamku yang sendu.
Kerelaan belum juga menyambangi beranda. Tapi mendung yang jatuh di matamu selalu mengetuk sanubari. Menyapa hatiku menjadi dingin dan sepi.
Atas nama kerlip-kemerlip masa lalu. Juga rajuk-merajuk yang terkurung dalam pendar kuning lampu kamar, kutunaskan sebuah bunga rindu.
Di halaman hatimu.
Sunday, October 26, 2014
Titipan pada Senja
Matahari belum jatuh, senja masih jauh
Rebahlah dulu di sisi dan mari merenda teduh
Bicara tentang seikat kembang dalam rasa yang luruh
Tentang tanya dan jawabnya yang tak pernah utuh
Sambil sesekali menyeruput sesal pada mimpi yang tak kunjung tunduh
Angin membelai mesra
Ditingkahi sayup harap pada eros jingga
Mengumbar kepul kenangan pada ranting-ranting jiwa
Detak berdansa
Meretas waktu, menggiringmu ditelan senja
Pulanglah kerinduan
Pada doa-doa yang bergumam perlahan
Pada pendar-padam penantian
Yang menggamit kesetiaan
Rebahlah dulu di sisi dan mari merenda teduh
Bicara tentang seikat kembang dalam rasa yang luruh
Tentang tanya dan jawabnya yang tak pernah utuh
Sambil sesekali menyeruput sesal pada mimpi yang tak kunjung tunduh
Angin membelai mesra
Ditingkahi sayup harap pada eros jingga
Mengumbar kepul kenangan pada ranting-ranting jiwa
Detak berdansa
Meretas waktu, menggiringmu ditelan senja
Pulanglah kerinduan
Pada doa-doa yang bergumam perlahan
Pada pendar-padam penantian
Yang menggamit kesetiaan
Di Penghujung Malam
Di penghujung malam
Resah bergulat dengan temaram
Jutaan Kali
Enggan dicuri pagi
Kau dan aku masih beradu pandang
Membiarkan anjing melolong panjang
Untuk kemudian tinggalkan cinta yang disandang
Ah, mengapa sekarang?
Mengapa menyerah saat belum satupun pahit yang kita terjang
Mengapa tak biarkan dulu riuh angin menari lebih lama
Untuk kemudian bersiul dalam hembus penuh cinta
Mengapa tak menunggu hingga jingga melambai
Untuk kemudian pekatnya langit menenggelamkan kita pada kisah yang takkan selesai
Ah, mengapa disini?
Mengapa berhenti saat belum satupun kemegahan kita singgahi
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus saga
Untuk kemudian bergradasi dan hilanglah segala dilema
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus sang surya
Untuk kemudian terbakar pada pesona cahaya dan jadi terlalu berharga
Mengapa sekarang?
Mengapa disini?
Padahal aku selalu pulang
Saat hanya kau yang menyambangi
Resah bergulat dengan temaram
Jutaan Kali
Enggan dicuri pagi
Kau dan aku masih beradu pandang
Membiarkan anjing melolong panjang
Untuk kemudian tinggalkan cinta yang disandang
Ah, mengapa sekarang?
Mengapa menyerah saat belum satupun pahit yang kita terjang
Mengapa tak biarkan dulu riuh angin menari lebih lama
Untuk kemudian bersiul dalam hembus penuh cinta
Mengapa tak menunggu hingga jingga melambai
Untuk kemudian pekatnya langit menenggelamkan kita pada kisah yang takkan selesai
Ah, mengapa disini?
Mengapa berhenti saat belum satupun kemegahan kita singgahi
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus saga
Untuk kemudian bergradasi dan hilanglah segala dilema
Mengapa tak kau bawa saja raga ini menembus sang surya
Untuk kemudian terbakar pada pesona cahaya dan jadi terlalu berharga
Mengapa sekarang?
Mengapa disini?
Padahal aku selalu pulang
Saat hanya kau yang menyambangi
Kau Bercarik Kata
Kau adalah buku
Yang halamannya menyimpan pilu dan riak yang candu
Titiknya adalah muara dari segala pandang yang laju
Dalam diam, ada sabda pada tiap siku
Tempat dimana relung bebas menjelaga waktu
Menyesapi asa yang menjelujur bersama sendu
Kau adalah bercarik-carik kata
Anggun berbaris menyimpan makna
Menari dalam khidmat menguntai diorama
Kaulah helai-helai romansa
Yang takkan habis kurapal jadi rona
Yang tak henti mendulang imaji sang pujangga
Yang halamannya menyimpan pilu dan riak yang candu
Titiknya adalah muara dari segala pandang yang laju
Dalam diam, ada sabda pada tiap siku
Tempat dimana relung bebas menjelaga waktu
Menyesapi asa yang menjelujur bersama sendu
Kau adalah bercarik-carik kata
Anggun berbaris menyimpan makna
Menari dalam khidmat menguntai diorama
Kaulah helai-helai romansa
Yang takkan habis kurapal jadi rona
Yang tak henti mendulang imaji sang pujangga
Friday, September 12, 2014
Penutup
Sebuah permulaan yang merundung malu
Awan berarak teriring angin yang sendu
Diam-diam menyibak geliat asmara yang tersimpan di antara kau dan aku
........................................
Kata sudah habis
Tertelan ke dasar ragu tanpa bisa dikais
Keringnya cuaca menyusutkan kita hingga ke paling kerdil dan sinis
Khusyuk menjelaga kenisbian rasa yang sulit digubris
........................................
Mendadak sisa-sisa jadi begitu sia-sia
Dan rangkaian puisi ini telah sampai pada pusara
Sebuah penutup yang takkan habis diduga
Sebaris nama yang hanya bisa dilarungkan dalam doa
Subscribe to:
Posts (Atom)